Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

VISI SMP NEGERI 1 KALORAN :’TERBENTUKNYA GENERASI YANG BERTAQWA, CERDAS, TERAMPIL, BERAKHLAK MULIA, MENJUNJUNG TINGGI KEARIFAN LOKAL DAN PEDULI LINGKUNGAN'

Standar Manajemen Sekolah – ISO 90012008

Untuk menjaga agar kualitas tetap bisa dipertahankan, dibutuhkan standar mutu yang didalamnya berisi tahapan-tahapan pekerjaan yang bermuara pada pencapaian unjuk kerja maksimal. Lembaga yang khusus menangani standarisasi adalah ISO (dahulu IOS. International Organization for Standardization). Lembaga yang bermarkas di Jenewa-Swis ini, didirikan agar dalam setiap tahapan selalu mengarah ke peningkatan. Mulai dari kinerja,efisiensi,daya saing,komunikasi internal sampai ke citra lembaga itu sendiri.



Tak ketinggalan, sekolah-sekolah kejuruan pun berlomba untuk mendapatkan sertifikat ISO. Bukan untuk gagah-gagahan atau adu gengsi (walau ada juga yang demikian)tetapi memang sudah menjadi keharusan agar tetap punya daya saing.Secara periodik pihak ISO selalu melakukan audit, yang sebelumnya didahului oleh semacam gladi bersih sebelum pihak ISO datang. Tujuannyaadalah untuk mengetahui seberapa siap masing-masing bidang yang akan di audit dapat memenuhi standard yang sudah dirumuskan di dokumen ISO. Tentu supervisor untuk latihan ini diambil dari tenaga internal sekolah, karena jika hasilnya kurang memuaskan, masih ada waktu untuk dilakukan koreksi bersama. Hampir semua yang terkait dengan administrasi dan pelayanan akan sibuk menyiapkan dokumen kelengkapan untuk mendukung data dan fakta yang dibutuhkan oleh pihak auditor.

Yang menarik untuk ditulis tentu reaksi orang per orang, baik ketika tiba waktunya eksekusi yaitu saat dimana pihak ISO datang, maupun jauh-jauh hari sebelum mereka datang. Mereka yang santai dalam menghadapi audit tentu mereka yang tertib administrasi, disiplin dalam mengentry data dan teliti melihat setiap perubahan. Siapa lagi kalau bukan Admin Sekolah. TU namanya. Mereka memang terbiasa melakukan tiga hal diatas karena kalau mereka tidak tertib, bukan saja merugikan mereka, tapi malah menyulitkan mereka sendiri. Sebaliknya,sikap santai tak akan terlihat pada mereka yang kurang siap dengan kedatangan auditor, biasanya mereka yang suka menunda pekerjaan, karena paling tidak, mereka butuh waktu untuk kerja lembur merapikan semua file-file sesuai klasifikasi masing-masing.

Yang paling menarik adalah mereka yang tidak siap untuk di audit. Siapa lagi kalau bukan Guru, baik Guru yang hanya tugas pokok dan fungsinya mengajar saja maupun Guru yang diberi jabatan tambahan. Memang tidak semua guru demikian, tetapi dalam suatu lembaga pastilah ada yang tidak siap untuk di korek lebih jauh perihal tertib administrasi. Sebenarnya dari tahun ke tahun, pihak auditor hanya menayakan apakah Rencana Program Pengajaran (RPP)selama satu semester telah dilakukan? Nah kalau jawabannya sudah, implikasinya itu yang berbuntut panjang. Auditor akan memeriksa bukti-bukti yang menguatkan jawaban “sudah” tadi. Misalnya, apakah jurnal mengajar yang terisi sudah sesuai dengan tanggal mengajar? Jangan-jangan karena mengisinya mendadak, bisa-bisa tanggal itu hari Minggu. Pernah juga auditor ingin bukti apa betul nilai ulangan harian si “Sri” nilainya sama dengan yang ditulis di dokumen? Mana buktinya? Beruntung hasil ulangan sudah moksa, melebur dengan siswa (Sudah di bagikan maksudnya). Memang, ke tidak disiplinan dalam mengarsip apa yang telah dilakukan Guru dalam setiap aktiftas belajar mengajar adalah kelemahan hampir semua guru. Faktor lupa, mendominasi alasan tersebut, disusul dengan faktor “anget-anget tahi ayam” yang artinya disiplin di minggu-minggu awal saja.Lupa mengarsip pasti karena lupa tidak membawanya. Bisa dimaklumi karena bentuk fisik RPP sendiri memang jelek. Ia tak lebih dari lembaran lembaran seukuran kertas A3/HVS yang di satukan di stop map atau di jilid mirip makalah jadul. Masih lebih baik RPP nya bu Guru SD dari NTT di acara Kick Andy dua minggu yang lalu. Padahal jelas-jelas tiap hari harus dibuka-buka. Andai saja bentuknya seperti diary tentu akan rajin mengisi, baik jurnal maupun kejadian-kejadian penting yang layak untuk di catat, bahkan siapa tahu bentuk yang menarik menjadikan lebih disiplin dalam jangka panjang yang akhirnya menjadi watak?

Untuk mereka para Guru yang dibebani tugas tambahan, misalnya Kepala Jurusan, pastinya akan lebih sibuk mempersiapkan diri menghadapi auditor. Beruntung dalam prakteknya, auditor hanya meng”introgasi” tugas tambahannya saja. Meski tugas tambahan, jika dalam proses administrasinya tidak tertib, sama saja dengan contoh Guru diatas tadi. Bisa kelabakan kalau sang auditor mengetahui ada “fom” maintenace and repair yang kosong. “masak selama setahun tak ada satupun alat yang rusak?” walhasil sudah menjadi rahasia umum fom-fom akan terisi penuh saat akan di audit. Mirip dengan murid mengerjakan multiple choice yang tadinya kosong, akan penuh sendiri saat waktu ujian mendekati habis.

Sejatinya ISO menekankan akan pentingnya proses tata kelola yang lebih baik seperti layaknya tata kelola di negara manapun yang juga berstandard ISO. Kalau toh dalam prosesnya masih ada temuan yang dikemudian hari tidak ada perubahan yang signifikan, bisa jadi sertifikat ISO akan di cabut. Pencabutan akan berakibat turunnya standar mutu pelayanan yang berdampak pada public image. (Sebagian menyebut kembali ke menejemen tradisional) Dari pihak ISO sendiri, jika concern akan mutu seharusnya lebih bijak manakala dalam mengaudit tidak dilakukan secara periodik tapi temporer yang tentu akan memberi efek kejut bagi mereka yang tidak siap untuk di audit, sehingga akhirnya menjadi terbiasa dengan “tradisi” ISO.

Post a Comment for "Standar Manajemen Sekolah – ISO 90012008"